Jumat, 21 Maret 2014

Halte

Hidup itu seperti perjalanan. Ada masanya bagi seseorang untuk berhenti sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya. Tempat perhentian itu bisa saja namanya halte. Di halte orang bisa melakukan banyak hal: mulai dari memikirkan kemana lagi arah perjalanan, memikirkan kendaraan mana yang akan dipakai ke tempat tujuan dan ada juga yang masih belum tahu kemana arah tujuan. Tapi yang jelas, tidak selamanya orang akan berhenti di halte karena suatu waktu orang harus beranjak dari halte itu untuk menuju ke tujuan selanjutnya, ke tujuan sejatinya. Tujuan sebuah perjalanan bukanlah halte.

Halte kita mungkin beda-beda, tapi tujuan setiap manusia hakekatnya sama, yaitu Penciptanya. Kendaraan mungkin beda-beda tapi menuju ke arah yang sama.

Tidak apa kalau saat ini sedang berhenti di halte. Tidak apa jika saat ini sedang berpikir apa kendaraan berikutnya. Asal tujuan jelas, asal arahnya jelas
maka tak mengapa kita berhenti sejenak di halte.


By Deve L. Tampubolon


Selasa, 23 April 2013

Love is a Verb



Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth. It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.

Kasih (red: Love) adalah kata kerja. Bukan hanya sembarang kata kerja. Jika tidak dikerjakan dengan kemurnian dan kualitas terbaik maka bergeserlah arti kasih dari makna sesungguhnya. Jika tidak lahir dari kesungguhan hati maka tidak mungkin bisa lahir kasih yang sejati. Tidak mudah. Ya, memang tidak mudah. Tapi mungkin.

Kasih itu adalah ketika kita tetap bisa tersenyum ketika orang salah mengerti terhadap kita.

Kasih itu berarti ketika orang yang berfikir negatif terhadap kita dan kita bisa tetap melihat jejak ilahi dalam diri orang tersebut.

Kasih itu tak berbatas. Mestinya.

Kasih itu tak bersyarat. Harusnya.

Kasih itu sempurna. Idealnya.

Pengalaman hari ini, benar-benar menantangku untuk mempraktekkan apa itu kasih. Belajar untuk tetap berpikir positif dan 'waras' ditengah-tengah tekanan. Dalam setiap benturan dan 'selisih paham' sesungguhnya itulah medan belajar kita untuk mengerti apa itu kasih dalam kamus baru. Kamus lama kita mungkin sudah saatnya di-up-date dengan kekiniian yang butuh praktek kasih yang baru dan murni. Bahkan kepada orang yang kita anggap dewasa dalam memaknai kasih, toh mereka juga ternyata belumlah tamat belajar apa itu dan bagaimana memaknai kasih. Sama seperti saya, mereka pun sedang belajar.  Jika kita belum sampai pada hembusan nafas terakhir, maka pelajaran itu belumlah usai.

Selamat belajar mengasihi Dev!

*tulisan lama yang ditulis ditengah-tengah kemacetan Jakarta*

Belanda Masih Jauh



Ungkapan "belanda masih jauh" umumnya digunakan untuk menyatakan bahwa sesuatu yang kita kejar atau sesuatu yang sedang kita kerjakan tidak perlu dilakukan dengan terburu-buru karena masih jauh 'belanda'nya.

Saya pakai istilah ini juga untuk menggambarkan betapa 'bersantai'nya saya dalam menceritakan kabar baik, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Semula saya beranggapan kalau keluarga saya tidak akan pernah meninggalkan Kristus, dan punya pemikiran kalau selamanya mereka tidak akan berpaling dari Kristus. Asalkan mereka tetap percaya pada Kristus, walaupun hidup mereka jauh dari mempertuhankan Dia, itu cukup bagi saya. Betapa naifnya saya ini.

Bagaikan disambar geledek rasanya ketika saya lihat dan dengar bahwa seorang kerabat, yang bisa dibilang dekat, ternyata bertolak dari Tuhan yang sejati. "Kenapa?"
“Mengapa?” adalah pertanyaan pertama yang terlontar dengan campuran emosi didalamnya. Namun kemudian saya tersentak dengan pertanyaan "Kamu dimana?". Ya, saya ada dimana pada waktu dia mengalami banyak pertanyaan tentang Tuhan dan hidup ini. Kemana doa saya selama ini? Kemana saya?

Saya asik dengan banyak hal sehingga abai untuk waspada dan berjaga-jaga. Nilai 'Belanda masih jauh' saya anut dan punya dampak yang menggetirkan hati. Betapa benarnya apa yang teks suci katakan "Bersiaplah, berjagalah, baik atau tidak baik waktunya beritakanlah
kabar keselamatan kepada seluruh penghuni di segala penjuru bumi ciptaanNya."

Kini mereka, dia dan dia, orang-orang yang saya kasihi berpaling dari Tuhan yang mengasihi mereka. Saya ambil bagian dalam keputusan buruk mereka dengan tidak berdoa dan abai. Harapan
saya untuk mereka tidak pupus, kiranya Allah sumber segala kasih karunia akan memanggil mereka kembali dalam kumpulan kawanan domba kepunyaanNya. 



Senin, 22 April 2013

Belajar tentang hidup dari Alya



 
Siapa bilang kita yang 'dewasa' ini tidak bisa belajar tentang hidup dari makhluk kecil yang belum pernah belajar alfabet, numerik, baca tulis, bahkan belum pernah melihat birunya langit itu dan menakjubkannya alam ciptaan Tuhan.

Ya, dia memang belum bisa mengucapkan sepatah kata apapun tapi bisa mengajarkan apa artinya hidup pada siapa yang tahu tentang hidupnya, minimal kepada saya.

Namanya Alya. Jangan tanya dia siapa, karena saya pun tidak pernah sempat jumpa dengan dia. Saya tidak tahu nama pangjangnya. Saya tidak kenal dengan mama papanya. Saya hanya tahu aunty-nya yang sayang sama dia dan tentang kondisi dia waktu hadir ke dunia ini yang prematur 5,5 bulan dengan berat badan 600gr tetapi organ tubuhnya lengkap walau belum matang. Hanya itu.

Pelajaran pertama Alya dimulai ketika dia tidak menyerah dengan vonis dokter. Divonis hanya berusia tidak lebih dari 24 jam, Alya berjuang begitu rupa dan dia bertahan di dunia ini 3 hari. Dia tidak menyerah, dia tahu bahwa hidup itu berharga maka dari itu dia berjuang. No matter what people says she just fight for her own life. Somehow I knew it. I just knew it.

Pelajaran kedua, love surpasses many barrier. Kasihlah yang jadi pemenang dalam perlombaan ini. Ditengah-tengah dunia yang miskin dengan kepedulian dan kasih, Alya berhasil menarik banyak orang untuk berhenti sejenak dari kesibukan di dunia mereka masing-masing. Alya berhasil membuat orang berhenti sejenak untuk berdoa membawa nama dia kepada Sang Pencipta. Alya berhasil mengikat banyak orang untuk mengasihi dia walau tidak kenal, walau tidak pernah bertatap muka, mengasihi tanpa keraguan bahwa ini tipuan belaka dan mengasihi tanpa banyak pertanyaan. Dia pun mengajar banyak orang untuk belajar memberi tanpa pamrih.  Alya did it. Yes, my baby girl you did it!

To my conclusion, Alya mengajarkan bagi kita yang masih hidup ini bahwa hidup itu berharga. Berharga untuk diperjuangkan. Terlalu berharga untuk disia-siakan.

Alya hanya menangis satu kali. Hanya satu kali yang terdengar cukup jelas. Bagi saya seakan dia mengeluarkan segenap tenaganya untuk mengapresiasi jutaan kasih sayang yang ditujukan kepada dia bertubi-tubi. Alya mengucap terima kasih untuk mama yang berjuang melahirkan dia, untuk dukungan yang diberikan kepada dia selama 3 hari ini, untuk aunty-aunty yang tersebar dimana-mana yang berusaha sebaik mungkin bagi dia. Alya menangis mengucapkan terima kasih kepada semua orang untuk doa dan kasih sayang.

No, my baby girl, thanks to you! What a good lesson you gave dear Alya.

As Psalmist say, you are fearfully and wonderfully made. God created your inmost being. He, himself, knit you together in your mother's womb. Gods' eyes saw your unformed body. All the days ordained for you written in Gods' book before one of them came to be. You are precious in God's sight as well in our sight. Farewell my baby, see you in heaven! Am sure my beloved Father in heaven welcoming you with an open arms and tears of proud. He proud of how brave you are Alya, our Alya.

Thanks to you Mom, for sharing your beloved daughter to us.

*Mourning*
by Deve L. Tampubolon

Senin, 13 Juni 2011

Eat, Play & Laugh (Part 1)

Sebuah perjalanan nekat 8 (delapan) anak manusia
By : Deve L. Tampubolon


Jika Elizabeth Gilbert punya kisah perjalanan yang menarik hingga dibukukan dan laris keras (Eat, Pray & Love-red), bahkan Oprah Winfrey membuat 2x wawancara khusus hanya untuk membahas perjalanan personalnya, maka perjalanan saya, dkk tidaklah se-bombastis Elizabeth Gilbert. Jangan juga berharap kalau perjalanan ini akan ada dilayar lebar, bahkan dilayar kecilpun tidak akan. Tetapi bagi saya, dkk (minimal saya) perjalanan ini punya tempat khusus di memori yang terbatas ini. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah perjalanan, liburan dan hura-hura. Ada pelajaran berharga tentang alam dan tentang manusia. Perjalanan yang membuat saya takjub dengan ciptaan Tuhan, bukan hanya panorama dan fenomena alam, tapi juga takjub dengan mahkota ciptaanNya, yaitu manusia yang ada bersama-sama saya dalam perjalanan ini.

Ada eat, play & laugh dalam perjalanan kami kali ini!

Cisarua, 15 Januari 2010


Menerima SMS yang mengharukan buat saya, isinya kurang lebih demikian :

“Udah di booking tiket 22-27 April ke Bali. Gw yang bayar tiket, tapi kalian tanggung akomodasi gw yah…
:D “

Waktu menerima SMS ini, sikap sanguin saya sangat mendominasi. Pikir saya “Wah, baik sekali Kakak ku yang satu ini, tahu aja kalau adikknya seorang hamba Tuhan dengan penghasilan yang pas-pas-an.”. Dengan sigap saya langsung texting seorang teman yang lain “Wuihh, baik sekali yah,, mau bayarin tiket”. Segera dijawab “Duh, Pe,, jangan polos-polos amat dong”.

Ah masa iya saya polos? Mungkin saja iya, mungkin juga tidak. Tapi tidak salah kan jika saya berpikir optimis... =)

Tapi, optimis atau naif? Hahahaha....

Bus Damri, 22 April 2011, 13.45-15.00 WIB


Pak Cik Amri, pelancong asal negeri Jiran yang kebetulan duduk disamping saya. Lantas dalam perjalanan kami bertukar cerita tentang perbedaan kultur, sistem pendidikan, sistem politik, clash yang sering terjadi antar negara yang katanya serumpun ini ( INA dan Malaysia). Kami pun saling membanggakan keindahan alam satu dengan yang lain. Bahkan Pak Cik ini menawarkan rumahnya jika saya nanti kembali berkunjung ke KL.

Ah, tapi maaf sekali Pak Cik, saya kapok ke Kuala Lumpur... :)


Soetta, 22 April 2011

Semangat ‘45 karena akhirnya saya akan menginjak Bali.

Perut keroncongan. Berhubung check in dalam kondisi mepet maka tidak sempat makan. Lalu secara acak memilih tempat makan yang ada di Bandara Terminal 3. Pilihan jatuh pada Nasi Goreng. Dan harganya? Rp26.000,-. Bagi sebagian orang mungkin harga ini tidak terlalu masalah, tapi untuk saya, ini pengalaman pertama dan terakhir kali makan nasi goreng semahal ini. Tapi apa benar ini yang terakhir? Nampaknya tidak.

Pelajaran pertama tentang Eat : Ternyata harga tidak menentukan kualitas makanan. Harga nasi goreng Rp26 rb masih kalah enak dengan Nasi Goreng si Udin yang harganya Rp7rb.

Ah,, diresponi dengan tertawa saja... :) Lain kali, isi perutnya jauh sebelum masuk area bandara. Good lesson.


Denpasar, 22 April 2011


Akhirnya sampai juga di tanah yang kata orang Paradise.

Seperti judul tulisan ini, perjalanan di Bali inipun dimulai dengan Eat. Maka kami pun memulai perjalanan ini dengan mampir ke warung nasi, namanya Nasi Pedas Bu Andika (Jl. Raya Kuta). Kesan pertama saya bagi warung ini adalah antriannya yang cukup panjang untuk memesan makanan. Apakah bisa dijadikan indikator kalau tempat makan yang banyak peminatnya itu berarti enak? Kali ini hipotesa saya benar. Ya, memang enak dan harga pun tidak terlalu mahal yaitu dikisaran Rp10-20rb.




Warning
: Hati-hati dengan orang yang tidak tahan dengan makanan pedas, karena tepat seperti namanya, makanan yang ada disini memang sangat pedas. Tapi ada juga beberapa menu yang tidak pedas bagi mereka yang mau..

Lanjut ke perhentian berikutnya. Apa? Yaitu Mall. Hahh,, jauh-jauh ke Bali tapi nangkringnya ke mall. Hmmm,, baiklah, kita lihat apa bedanya mall di Bali & Jakarta.

Discovery Mall, just like any others mall in Jakarta. Hanya bedanya, mall ini tepat berada dipinggir pantai. Sayang sekali kami tiba disana sudah malam, hanya sight-seeing beberapa club yang ada disekitar mall dan tidak berminat masuk. Selain masalah ‘asing’, bagi saya juga masalah’kocek’....=)

@ Discovery Mall : Jo, Deve, Juli & Kotel (invisible)

Dan tentunya yang tidak terlewatkan, yaitu apa? Ya, memoto, dipoto dan dipoto… =)


Padang Bay, 22 April 2011

Kalau bisa menambahkan sub judul dari tulisan ini, saya akan menambahkan kalimat "Perjalanan Nekat".

Dalam perjalanan dari Padang Bay menuju pelabuhan lembar, kami 'nekat' sewa kamar ABK dengan harga Rp50rb (3 tempat tidur). Kami 'nekat' tidur ditempat yang tidak bisa dibilang bersih. Lantas, demi menghilangkan mual akibat mabuk laut dan rasa jijik karena tempat yang kurang ‘kooperatif’, saya dan Jo buru-buru menenggak antimo, supaya segera mengantuk dan tidur.

Tapi saya bersyukur bisa dapat kamar di kapal ini, kalau tidak, saya tidak bisa membayangkan tidur diluar dengan angin laut di malam hari, yang ada nanti bukan menikmati libur, tapi sakit waktu liburan.

Butuh waktu sekitar 4 jam perjalanan dari Padang Bay menuju Lembar. Walaupun kondisi kamar dan ombak laut yang sangat tidak menyenangkan, tapi toh saya, dkk tidur cukup lelap juga... =).. Thanks to antimo!

Pengalaman pertama yang menarik! Oiya, info tambahan : Harga tiket kapal Padang Bay – Lembar >> Rp 36rb.


Lembar (Nusa Tenggara Barat), 23 April 2011

Kami tiba sekitar pukul 04.00 WITA dini hari dan disambut oleh beberapa fans (baca: calo mobil) yang menawarkan jasa mereka dengan sedikit intimidasi. Sambil menunggu pagi yang lebih siang, kami mampir disebuah kedai kopi. Lalu memesan 4 gelas teh manis panas. Sambil menyuruput teh yang bisa dibilang tidak panas dan tidak manis, kami sibuk dengan ‘kegiatan’ kami masing-masing. Saya dan Jo bersandar ke tas masing-masing dan memanfaatkan waktu sesaat untuk tidur. Juli, entah apa yang dia kerjakan, tidak terlihat oleh saya. Kotel, ngobrol-ngobrol dengan supir dan kenek yang ada di pangkalan itu.

Peringatan bagi yang pertama kali ada di Pelabuhan Lembar, harus berhati-hati dengan calo-calo yang ada disana. Sepanjang kami disana, mereka (baca: calo) sangat gencar melancarkan bujuk rayu mereka, bahkan sampai sedikit mengintimidasi. Jika memang tidak yakin apakah akan naik angkot mereka, dilarang keras untuk mencoba menawar. Cukup senyum manis dan bilang kami sudah ada yang akan jemput... =)

Kurang lebih 2 jam kami ada kedai itu, dan akhirnya kami naik ke salah satu angkot yang trayeknya menuju Mataram. Kami membayar harga sekitar Rp15rb per orang dengan waktu tempuh sekitar 60-90 menit.

Dalam perjalanan menuju Mataram, Pak sopir (yang saya tidak tahu namanya) ini banyak bercerita tentang ‘keunikan’ Mataram. Misalnya : Beliau bercerita, bahwa pernah satu kali dia mengantarkan penumpangnya ke terminal Mataram dan di terminal ini penumpangnya tersebut dirampok habis-habisan oleh perampok disana. Dengan pengalaman yang demikian maka beliau tidak berani menurunkan kami ditengah terminal. Beliau rela menunggui kami sampai dijemput dan memastikan bahwa kami aman.

Pikir saya “Wah ternyata masih banyak orang baik yang peduli dengan keselamatan orang lain, orang lain yang mungkin baru kali ini dia kenal dan mungkin yang tidak akan dia jumpai lagi”.

Terima kasih banyak Pak Sopir! Saya menyesal tidak tanya nama Bapak. Dalam waktu teduh, saya berfikir kalau ini adalah salah satu cara Tuhan menjaga kami di daerah yang sama sekali baru bagi kami.


Mataram, 23 April 2011


Kalau ada peribahasa “lepas dari mulut singa masuk mulut buaya” yang punya konotasi negatif. Maka saya pun punya peribahasa bagi orang-orang yang saya temui di Mataram, “lepas dari satu malaikat, bertemu dengan malaikat lainnya”. Tidak berlebihan rasanya saya mengarang peribahasa yang mungkin hanya akan ditemui didalam tulisan ini saja, karena saya memang banyak bertemu malaikat yang Tuhan kasih disana.

Sekitar pukul 07.00 WITA kami tiba di pusat kota. Namanya Om Oneng, beliaulah yang menjemput kami dengan mobil pick-up nya. Dengan murah hatinya beliau mengajak kami ke rumahnya untuk kami bisa beristirahat sejenak dan bersih-bersih badan.

Yang menakjubkan buat saya tentang pertemuan kami dengan Om Oneng adalah, bahwa tidak ada satupun dari kami yang pernah ketemu muka dengan Om Oneng. Selama ini yang berkorespondensi itu Kotel dan via kaskus. Dan pada saat menjemput kami itulah, kami pertama kali berkenalan (khususnya saya, Jo & Juli). Om Oneng pun tidak tahu tampang dari masing-masing kami seperti apa. Sulit bagi saya untuk menjelaskan bagaimana perasaan saya saat itu waktu tahu kondisi sebenarnya, antara perasaan heran, exited, semi-detektif dan senang.

Setibanya dirumah Om Oneng, kami disambut dengan sangat hangat oleh Bunda (istri Om Oneng). Seperti menyambut sahabatnya, Bunda sibuk mempersiapkan sarapan buat kami. Teh manis panas (kali ini benar manis dan panas) dan indomie rebus yang Bunda siapkan untuk sarapan.

Dalam percakapan dengan keluarga Om Oneng, kami bertanya sama beliau kenapa mau membuka rumahnya untuk orang-orang yang baru dia kenal. Beliau menjawab “Sederhana saja, saya ingin punya banyak saudara!”.

Saya cukup kagum dengan cita-cita dan impian yang dimiliki oleh Om Oneng dan keluarga. Bagi beliau impian tersebut sederhana, tapi bagi saya itu sebuah impian besar, karena tidak mudah mewujudkannya. Dibutuhkan keluasan hati bagi Om Oneng dan keluarganya untuk membuka rumah, membuka hati mereka setiap waktu dan bagi setiap orang yang mungkin belum pernah mereka temui. Belum lagi mereka juga harus waspada akan bahaya yang mungkin saja bisa mereka alami karena menerima orang yang baru. Sekali lagi buat saya ini bukan impian murahan tapi impian yang mulia dan indah.

Hospitality seperti ini yang nampaknya jadi barang mahal dan langka di bangsa ini. Jika saja seluruh orang-orang Indonesia punya hospitality seperti Om Oneng dan keluarga maka Indonesia akan jadi rumah yang nyaman bagi setiap orang yang datang, tinggal dan menetap.

Lalu apa yang terjadi dengan kami?

Menyantap habis teh manis panas dan indomi telur yang disuguhkan Bunda. Kenyang!

Lalu kami diizinkan untuk membersihkan diri. Kata Bunda “Rasain air lombok, beda dengan Jakarta”. Iya Bunda, memang beda, lebih segar dan dingin.

Setelah mandi, bersih-bersih lantas Om Oneng mengantarkan kami ke tempat penyewaan motor. Harga sewa motor matic Rp50rb per hari (24 jam) diluar bensin.

Satu lagi yang membuat saya takjub dengan kota Mataram, yaitu jam ‘kehidupan’ nya. Kota ini bisa dibilang 'hidup' jika diatas jam 10 pagi. Seluruh akrivitas perniagaan baru dimulai biasanya diatas jam 10 pagi. Walhasil, kami (Om Oneng, Kotel & saya) yang datang agak pagi sekitar 8.30 jadi agak kelimpungan dan harus menunggu. Kami memutuskan untuk cari tempat lain yang siapa tahu sudah buka. Pun, kami tidak dapat hasil apa-apa. Tapi bagi saya, lumayanlah bisa diajak keliling kota sama Om Oneng.

Juli dan Jo tinggal dirumah sementara kami mencari sewaan motor. Ternyata, dirumah mereka kembali ‘dijejali’ makanan oleh Bunda, Plecing Kangkung namanya. Makanan ini sejenis Pecel Kangkung yang ada di Jakarta, tapi yang membuat unik itu sambal plecingnya, dan rasanya sangat, sangat pedas.



Alamak pedas pangkat lima!

Darimana saya tahu? Karena saya, Kotel dan Om Oneng pun ikutan dapat jatah dari Bunda... =)






to be continued .... in Eat, Play and Laugh (Part 2)


Jumat, 25 Februari 2011

Looking “along” and Looking “at”

I was standing today in the dark tool shed. The sun was shining outside and through the crack at the top of the door there came a sunbeam. From where I stood that beam of light, with the specks of dust floating in it, was the most striking thing in the place. Everything else was almost pitch black. I was seeing the beam, not seeing things by it.

Then I moved, so that the beam fell on my eyes. Instantly the whole previous picture vanished. I saw no tool shed, and (above all) no beam. Instead I saw, framed in the irregular cranny at the top of the door, green leaves moving on the branches of a tree outside and beyond, ninety-odd million miles away, the sun. Looking along the beam, and looking at the beam are very different experiences.

But this is only a very simple example of the difference between looking at and looking along. A young man meets a girl. The whole world looks different when he sees her. Her voice reminds him of something he has been trying to remember all his life, and ten minutes’ casual chat with her is more precious than all the favors that all other women in the world could grant. He is, as they say, “in love.” Now comes a scientist and describe this young man’s experience from the outside. For him it is all an affair of the young man’s genes and a recognized biological stimulus. That is the difference between looking along the sexual impulse and looking at it…

You get one experience of a thing when you look along it and another you look at it. Which is the “true” or “valid” experience? Which tells you most about the thing? And you can hardly ask the question without noticing that for the last fifty years or so everyone has been taking the answer for granted. It has been assumed without discussion that if you want the true account of religion you must go, not to the religious people, but to anthropologist; that if you want the true account of sexual love you must go, not to lovers, but to psychologists ….

The people who look at things have had it all their own way; the people who look along things have simply been brow-beaten. It has even come to be taken for granted that the external account of things.

Looking “along” and Looking “at”
BY : CS LEWIS

Corat Coret EAGC

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…
Allah melihat semuanya itu baik...

Pada mulanya Allah melihat semua ciptaanNya baik, lalu bagaimana setelah ciptaan terkutuk karena dosa, apakah Allah masih melihat semuanya baik?Ya, melalui karya penebusan anakNya di kayu salib, semua karya penyelamatan bagi seluruh ciptaan tergenapi dan utuh.

Tetapi, manusia (bahkan yang sudah diselamatkan pun), kadang memiliki pola pandang yang tidak sama. Berapa banyak yang memiliki penghayatan bahwa badak bercula satu di Ujung Kulon sana yang hampir punah, terkait dengan kehidupan mereka. Atau berapa banyak yang memikirkan bahwa Allah perduli dengan parfum, film, iklan, blog, FB, FS, mesin cuci, detergen atau hal “remeh” lainnya. Kadang sebagai umat, kita hanya partial memikirkan bahwa Allah hanya peduli terhadap hal-hal yang besar. Justru ketika kita memiliki pandangan yang demikian, kita sedang mendongkel DIA dari tahta Nya yang sesuanggunya¬-Sang Pencipta Alam Semesta.

Allah perduli, mataNya memperhatikan dan mengawasi bagaimana kita hidup. Bukan hanya kehidupan spiritual tapi kehidupan society kita juga mendapat porsi yang besar dalam pandanganNya.

Belajar dari kehidupan Bangsa Israel. Israel berulang kali masuk dalam masa pembuangan dan penderitaan. Kenapa dan ada apa? Tidakkah Allah YHWH tahu, bawa pada masa itu, kekalahan sebuah bangsa berarti kekalahan tuhan mereka? Apakah DIA tidak peduli dengan namaNya yang besar, yang akan rusak dihadapan bangsa-bangsa lain? Kenapa Allah mengizinkan hal ini terjadi.

Allah peduli dengan umat pilihanNya. UmatNya-lah yang jadi concern utamaNya. Israel. Israel jatuh kedalam dosa pemberontakan yang amat sangat kepada Allah, Israel tidak lagi menjadi bangsa yang mencerminkan kekudusan umat Allah yang seperti DIA kehendaki. Maka itu DIA mendisiplinkan umatNya dengan memakai tangan bangsa lain untuk mengajar umatNya ini.

Yesaya 1 : 10-20
Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom!
Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!
Isa 1:11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
Isa 1:12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?
Isa 1:13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan.
Isa 1:14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.
Isa 1:15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku,
bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa,
Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.
Isa 1:16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,
Isa 1:17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!
Isa 1:18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba,
akan menjadi putih seperti bulu domba.
Isa 1:19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.
Isa 1:20 Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.
" Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.
Isa 1:21 Bagaimana ini, kota yang dahulu setia sekarang sudah menjadi sundal! Tadinya penuh keadilan dan di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh.
Isa 1:22 Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air.
Isa 1:23 Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.
Isa 1:24 Sebab itu demikianlah firman Tuhan, TUHAN semesta alam, Yang Mahakuat pelindung Israel; "Ha, Aku akan melampiaskan dendam-Ku kepada para lawan-Ku,
dan melakukan pembalasan kepada para musuh-Ku.
Isa 1:25 Aku akan bertindak terhadap engkau: Aku akan memurnikan perakmu dengan garam soda, dan akan menyingkirkan segala timah dari padanya.
Isa 1:26 Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia."
Isa 1:27 Sion akan Kubebaskan dengan penghakiman yang adil dan orang-orangnya yang bertobat akan Kubebaskan dengan tindakan yang benar.
Isa 1:28 Tetapi orang-orang yang memberontak dan orang-orang berdosa akan dihancurkan bersama, dan orang-orang yang meninggalkan TUHAN akan habis lenyap.
Isa 1:29 Sungguh, kamu akan mendapat malu karena pohon-pohon keramat yang kamu inginkan; dan kamu akan tersipu-sipu karena taman-taman dewa yang kamu pilih.
Isa 1:30 Sebab kamu akan seperti pohon keramat yang daunnya layu, dan seperti kebun yang kekurangan air.
Isa 1:31 Maka yang kuat menjadi seolah-olah kapas dan pekerjaannya menjadi seolah-olah bunga api; keduanya menimbulkan api dan tidak ada yang dapat memadamkan.


Hukum mutlak dari ilmu pengetahuan dan logika adalah ex nihilo nihil fit (dari yang tidak ada, maka tidak ada yang dapat dihasilkan). Jika kita menginginkan society, Indonesia, yang lebih baik, maka kehadiran anak-anak Tuhan disetiap aspek sangat penting untuk menghasilkan sebuah perubahan. Ketidakberadaan tidak dapat menghasilkan apapun. Ingatlah, bahwa tidak ada yang ”remeh” bagi Tuhan.

SELA

Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN,
dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela (Mazmur 3:5)

Saya jenuh. Dalam 4,5 tahun ini, rutinitas saya sehari-hari berhadapan dengan kertas, angka, membuat laporan, dan memastikan kantor berjalan dalam koordinasi yang baik. Saya merasa butuh istirahat, butuh sabat, butuh sela.

Pengertian sela dalam kitab Mazmur sampai saat ini masih jadi perdebatan, entah sebagai tanda liturgi dalam musik atau instruksi dalam pembacaan teks yang seakan ingin mengatakan “berhenti dan dengarkan”. The Amplified Bible menerjemahkan sela sebagai berhenti sebentar dan mulai berpikir.

Saya terpikir untuk mengambil waktu istirahat dengan mengikuti pelatihan penulisan. Dalam benak, saya ingin mengikuti pelatihan ini hanya sampai hari kamis sore saja. Memang tujuannya hanya untuk sejenak berhenti, tidak ada niat untuk berpikir dan dengar. Tapi sore itu, ada satu kejadian membuat saya takut dan mengurungkan niat untuk pulang. Bapak mentor sangat tegas dan terkesan galak. Salah satu peserta hampir dinyatakan gugur karena terlambat masuk sesi pertama. Dia berkata, “Jika tidak masuk satu sesi lebih baik tidak usah ikut, suruh pulang saja jika masih jauh”. Saya sangat kaget dengan pernyataan beliau. Saya pikir betapa kerasnya persyaratan yang ditetapkan oleh Bang Sam. “Memang akan berjalan seperti apa sih pelatihan ini?” tanya saya dalam hati. Saya tetap dengan pendirian hanya ingin ‘berhenti’ tanpa maksud ‘berpikir dan mendengarkan’. Saya hanya ingin ‘berhenti’ saja alias ½ sela.

Dimulailah sesi pertama, kemudian perhatian saya terfokus pada tampilan foto-foto yang baru saya lihat dan kutipan-kutipan hebat yang baru saya dengar. Saya tertegun kagum, lalu dengan cepat beralih kepada merasa malu dan gelisah, kenapa saya bisa tidak tahu orang-orang hebat negeri ini. Saya tergugah dengan wawasan kebangsaan yang dimiliki oleh Bang Sam. Saya iri. Saya ingin tahu banyak seperti dia. Dan saya memutuskan untuk sepenuh hati mengikuti pelatihan ini. Pasti ada gunanya pikir saya. Saya memutuskan untuk ikut lengkap dan mengorbankan waktu masuk kerja dan acara penting yang harusnya saya hadiri. Padahal, hari kedua dalam pelatihan tersebut saya harus menghadiri rapat penting di kantor. Karena merasa sayang melewatkan sesinya, saya berjuang sedemikian rupa untuk bisa kembali ke pelatihan ini. Saya menemukan banyak hal baru.

Dan memang demikian, mulai dari bagaimana memperhatikan objek, menggali ide, dan yang paling saya ingat adalah menemukan ide yang sederhana tapi orisinil. Segala hal yang diberikan sangat menolong saya untuk menulis, yang notabene saya pernah bercita-cita jadi penulis. Bukan tidak mungkin ke depannya saya jadi penulis hebat seperti Bang Sam, bahkan lebih (he..he..). Dan pelatihan ini membantu saya menapak langkah pertama saya.

Jalan Tuhan memang beda dan unik. Ketika saya menginginkan bentuk istirahat yang ‘berhenti’, Tuhan malah memberikan kepada saya masa berhenti yang dipaksa berpikir dan dipaksa mendengarkan. Masa sela saya ada dalam pelatihan ini. Tuhan lebih tahu apa yang jadi kebutuhan saya untuk berhenti dalam masa tertekan oleh banyak hal: pekerjaan, rumah, dan diri.

Masa pelatihan adalah masa sela yang unik. Disini saya diminta diam, berhenti, berpikir dan mendengarkan. Seperti penggunaan sela dalam kitab mazmur, yang digunakan sebagai peralihan dari ayat satu ke ayat yang lain. Tuhan sedang menuliskan ayat dalam kisah hidup saya yang terencana dengan indah di dalam Dia. Sebelum melanjutkan ayat berikutnya, Dia menganugerahkan masa sela, masa pelatihan ini.

Terima kasih banyak Bang Sam, Kak Ellys, dan Kak Iyung. Terima kasih banyak Tuhan. ..

“Tak Kenal Maka Tak Sayang”

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan ini membuat saya kembali memikirkan ulang mengenai rasa cinta terhadap tanah air ini. Indonesia punya porsi besar dalam doa pribadi dan doa komunal saya. Terus bergiat mendorong anak binaan untuk mencintai negeri ini, menjadi salah satu indikator cinta Indonesia.

Tapi sepertinya ada proses yang terlewat oleh saya dan celakanya juga terlompat dalam pola pembinaan saya. Apakah itu? Kenal dan belajar Indonesia. Kenal dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Tahu hanya sebatas melibatkan pikiran yang berdampak pada bertambahnya pengetahuan, tetapi kenal tidak hanya melibatkan unsur pikiran tapi juga emosi personal

Sejauh ini saya mendorong mereka untuk mencintai tanah air ini dengan cinta buta, cinta tanpa pengenalan. Cinta tanpa pengenalan adalah cinta yang dangkal. Wajar saja jika ujungnya saya menemukan ada anak bina yang dengan mudahnya berlaku jahat terhadap negerinya sendiri, misalnya: mencuri uang negara. Mungkin ini dikarenakan cinta yang sekedar konsep, pengetahuan dan pemikiran tanpa unsur emosi di dalamnya, cinta yang dangkal.

Saya kecewa. Tapi saya juga punya andil dalam kesalahan itu, saya melewatkan proses pentingnya: belajar dan kenal Indonesia.

Belajar dari kisah ironi Putri Indonesia, yang notabene adalah simbol atau representasi Indonesia, yang salah menyebutkan Indonesia sebagai ‘kota’. Ada lagi putri yang lain (dalam tahun berbeda) yang juga salah menyebutkan Wasior ada di pulau Sumatra. Betapa mirisnya kenyataan ini, bahwa pengenalan terhadap bangsa bukan lagi menjadi hal yang penting tapi sepele. Bahkan untuk pemilihan yang mengatas namakan Indonesia, pemenangnya tidak kenal Indonesia.

Berapa banyak anak muda kenal pahlawan-pahlawan negeri ini? Berapa banyak lagu bertemakan kebangsaaan masih familiar dinyanyikan anak muda? Berapa banyak anak muda mengerti sejarah dan tokoh pendiri bangsa ini? Tidak banyak. Dan saya termasuk dalam jajaran yang tidak banyak tersebut.

Lalu bagaimana memperbaikinya? Bagaimana belajar mencintai negeri ini dengan kenal dan belajar tentang Indonesia? Saya memulai dari diri saya sendiri. Saya mulai membaca tokoh-tokoh besar negeri ini dan belajar dari kisah hidup perjuangan mereka. Saya lebih bangga dengan kebudayaan-kebudayaan negeri ini yang beraneka ragam, yang mungkin bagi anak muda sekarang ini dianggap kuno. Saya belajar menghargai bahasa Indonesia, tidak sok kebule-bulean dengan mengutip kata Inggris hanya untuk terdengar lebih modern dan berpendidikan. Melibatkan unsur emosi dalam wawasan kebangsaan akan membuat saya lebih bergiat mencari tahu kekayaan sejarah dan budaya negeri ini. Dan saya bisa mulai menularkan pemahaman ini kepada anak binaan.

Untuk punya rasa sayang dan cinta yang dalam, butuh pengenalan baik dan utuh. Demikian juga mencintai negeri ini butuh kenal kisah dan sejarah bangsa ini. Betapa bodohnya saya tidak tahu kekayaan bangsa sendiri. Betapa miskinnya jika saya terus bersikap abai. Saya mau cari tahu, belajar, kenal dan akhirnya mencintai bangsa ini. Saya sayang karena kenal.

Pekerjaan Tidak Populer

Dalam senda gurau di sela-sela menuju ruang kuliah, celetukan yang sering saya dengar sewaktu kuliah adalah “sesial-sialnya anak FE menimal jadi menteri keuangan”. Sebegitu pongahnya kami dalam memandang jadi apa kami ke depan. Ditempa dalam kondisi demikian dan di’siram’terus menerus dengan perkataan yang menurut dosen kami ‘membangun’, kami jadi memiliki pandangan tersendiri terhadap jenis-jenis pekerjaan yang nantinya akan digeluti. Pandangan itu tumbuh subur dalam hati dan pola pikir kami karena pandangan tersebut mengotak-ngotakkan jenis pekerjaan berdasarkan posisi dan gengsinya. Dan saya hampir tenggelam dalam pola pikir seperti itu. Saya tidak setuju dengan pengotak-ngotakan itu, namun, saya tetap menyimpan harapan untuk bisa bekerja di bidang keuangan, minimal staf ahli menteri.

Walaupun saya ikut tertawa dalam guyon itu dan kadang terselip juga kepongahan itu, namun saya merasa bahwa guyon itu sangat berbahaya bagi perkembangan saya dan teman-teman memandang pekerjaan. Guyon itu membuat kami hanya merasa bahwa yang namanya pekerjaan hanyalah yang diakui oleh orang kebanyakan, alias pekerjaan populer.

Pekerjaan populer atau tidak populer hanya sebutan yang diberikan manusia untuk menggambarkan bahwa ada jenis pekerjaan yang lebih digandrungi oleh orang dan ada pekerjaan yang tidak gandrungi. Pelabelan tersebut bukan merujuk kepada nilai atau esensi dari pekerjaan atau bekerja. Tidak berarti bahwa orang-orang yang bekerja dalam pekerjaan tidak populer berarti dia manusia rendahan. Sepanjang pekerjaan tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran, maka manusia yang bekerja sudah sesuai dengan harkatnya, yaitu pekerja.

Saya menariknya dalam kondisi saya. Bagi orangtua, saya adalah kebanggaan mereka. Saya lulus dari sebuah universitas negeri ternama dan masuk dalam jurusan yang populer di universitas tersebut, padahal, ayah supir angkot, ibu seorang guru SD negeri. Harapan orang tua saya adalah saya bekerja di tempat yang nantinya bisa mereka ‘sombong’ kan ke keluarga kami lainnya.

Dan apa yang terjadi? Alih-alih menjadi ‘menteri keuangan’ atau minimal ‘staf ahli keuangan’, saya memilih pekerjaan yang tidak populer. Saya memilih menjadi staf sebuah LSM dan menjadi ‘staf ahli keuangan’ di sana. Pilihan ini menuai protes, cercaan, bahkan hinaan tidak hanya dari pihak orang tua tapi juga teman-teman saya di perkuliahan dulu. Lantas apakah saya menjadi orang yang rendahan ketika memilih pekerjan yang tidak populer? Saya dengan tegas berkata tidak karena saya memaknai pekerjaan dengan arti yang berbeda. Perbedaan terletak pada cara saya memilih suatu pekerjaan. Saya memilih pekerjaan berdasarkan visi, bukan pamor atau harapan orang. Dan bagi saya, setiap pekerjaan penting.

Ibarat klip pengganjal kertas di printer. Diantara bagian komponen yang lain, klip kecil ini sangat tidak terkenal dan jarang ada yang mengamati, tidak sepopuler film print atau tabung tinta. Namun, kehadiran klip kecil sangat menunjang kinerja keseluruhan mesin print ini. Jika klip kecil ini hilang, maka kertas yang ditarik oleh mesin tidak akan beraturan dan menyebabkan paper jam.

Bayangkan jika semua orang ingin menjadi ‘menteri keuangan’ atau ‘staf ahli menteri’ dan tidak ada tukang sapu, tukang angkut sampah, sopir, dll. maka kehidupan pasti tidak akan berjalan dengan seimbang.

Saya meyakini bahwa setiap pekerjaan punya kontribusi sesuai dengan apa yang sudah direncanakan oleh si Pemilik Pekerjaan. Seperti klip tadi, mungkin tampilannya memang kecil tapi punya peranan penting bagi kinerja alat tersebut. Begitu juga setiap kita, pekerjaan yang kita miliki punya peran penting secara keseluruhan. Mari lakukan bagian kita masing-masing dengan baik agar ‘printer’ ini berjalan dengan baik.

Jumat, 15 Oktober 2010

Persimpangan Prioritas

Memang gak enak berada di persimpangan,,

Kendaraan ada di posisi mana, menentukan boleh jalan maju duluan apa tidak. Menurut Wikipedia Persimpangan Prioritas itu artinya Bila suatu persimpangan arus dijalan utama (mayor) bersimpangan dengan dengan jalan kecil (minor) maka kendaraan yang berada di jalan utama mendapat hak terlebih dahulu.

Memang gak enak di persimpangan...

Semoga bisa melewati persimpangan dengan baik...

I will go forth in grace alone...

-Deve L. Tampubolon-

Skakmat!

“ Sesuatu yang paling menakutkan bagiku akhirnya datang ke atas ku.

Dalam waktu Tritunggal 1929 saya menyerah, dan mengakui bahwa Allah adalah Tuhan dan berlutut serta berdoa: mungkin, malam itu, pertobatan yang paling menyedihkan dan tidak rela di seluruh Inggris. Pada saat itu saya tidak melihat apa yang sekarang merupakan hal yang paling bersinar dan yang sudah jelas; kerendahhatian Ilahi yang mau menerima pertobatan bahkan dalam kondisi yang demikian.

Anak yang hilang setidaknya berjalan pulang dengan kakinya sendiri. Namun siapa yang dapat mengira kemuliaan Kasih yang akan membuka gerbang tinggi untuk anak hilang yang dibawa masuk dengan perlawanan, pemberontakan, tak mau menyerah dan melihat dengan tajam ke sekelilingnya ke segala arah untuk mencari sebuah kesempatan melarikan diri?... kekerasan Allah adalah lebih baik daripada kelembekan manusia, dan pemaksaan-Nya adalah kemerdekaan kita. “




C. S Lewis

Surprised by Joy

Ternyata Oh Ternyata....

Ternyata oh ternyata....


Baru tadi pagi saya sempat memikirkan lebih dalam tentang ‘fenomena’ antrian panjang yang tiap pagi selalu saya lihat. Para pengantri rela datang pagi-pagi, bawa sarapan sendiri dan bawa beberapa lembar koran untuk jadi alas duduk dan bersenda gurau dengan pengantri lainnya. Mereka adalah orang-orang lanjut usia yang menginginkan perubahan terjadi dalam diri mereka.

Mereka mengantri di sebuah ruko kecil yang diatas rukonya terpampang spanduk besar “C*R*G*M”. Dalam hati saya bertanya, apa sih “C*R*G*M” itu, ternyata tempat itu adalah sebuah tempat terapi pengobatan yang berasal dari Korea Selatan. Tempat itu menggunakan alat terapi kesehatan yang di klaim sebagai perpaduan pengobatan alamiah Timur dan Barat. Dengan menggunakan pancaran sinar infra merah jauh (far infra red rays). Info yang lengkap ini saya dapat dari mama saya. Ternyata oh ternyata, mama saya pernah menjadi salah satu pengantri yang menikmati fasilitas gratis dari tempat tersebut. :D

Kenapa bisa gratis? Hari gini masih ada fasilitas untuk kesehatan yang gratis? Aneh bin ajaib, pada era semua hal serba di kalkulasi dengan angka dan lembaran uang, masih ada saja hal yang gratis. Lagi-lagi, ternyata oh ternyata, semua fasilitas gratis itu punya maksud terselubung didalamnya.


Apa?

Untuk memasarkan produk yang terbilang mahal, metode marketing “C*R*G*M”, terbilang smart dan langka berhasil jika tidak tepat penerapannya. Mereka menggunakan sistem pemasaran “Refferal Marketing”, metode pemasaran mulut ke mulut. Customer diharapkan menceritakan tentang kebaikan, manfaat “C*R*G*M” kepada orang lain. Para calon customer diberikan kebebasan untuk mencoba produk, mencoba tanpa batas. Diharapkan setelah mereka mencoba dan merasakan ada perubahan dalam diri mereka, mereka kembali menceritakan kepada orang lainnya tentang “C*R*G*M”.

Seakan sudah memahami sifat alamiah manusia, bahwa manusia tidak mau repot untuk mengantri panjang setelah merasakan efek dari menggunakan produk, tidak cepat puas karena ingin seluruh penyakitnya hilang dan tanpa sadar customer dalam alam bawah sadarnya mulai didorong keinginan untuk memiliki produk ini, slow but sure. Disinilah “C*R*G*M” memakai semua hal ini untuk menancapkan strategi pemasarannya.



Lalu kenapa ini menggelisahkan saya?



Satu sisi, apa yang dilakukan oleh “C*R*G*M” (mungkin) berguna bagi masyarakat miskin yang butuh sembuh. Dengan fasilitas gratis yang diberikan oleh “C*R*G*M”, memudahkan masyarakat miskin ini untuk mengakses kesembuhan yang mereka idam-idamkan. Silahkan googling testimoni dari orang-orang yang sudah merasakan manfaat produk ini, hasil yang keluar jutaan testimoni. Tapi dilain sisi, apa yang dilakukan oleh “C*R*G*M” sangat tricky, mereka memanipulasi (entahlah, apakah kata ini terlalu frontal atau tidak?) sisi psikologis orang sakit untuk membuat mereka ketergantungan terhadap produk mereka. Apa jadinya jika masyarakat miskin ini terlalu memaksakan diri mereka untuk membeli produk yang kisaran harganya Rp10jt-Rp30jt?. Ah, seandainya saja sistem kesehatan di negeri ini baik dan tidak korup, tentu saja tidak akan ada kesempatan bagi pihak lain untuk mengeksploitasi sakit mereka.

Ternyata oh ternyata, tidak ada yang benar-benar murni kasih dalam dunia ini.

Saya teringat kejadian 2000 tahun lalu, Matius mencatat “Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”....


Tuhan Yesus melihat orang sakit dan orang lemah dengan belas kasih, bukan dengan cara pandang bahwa mereka adalah objek pemberi keuntungan.

Kapan negeri ini belajar untuk melihat manusia lain bukan sebagai objek pemberi keuntungan, tetapi melihat bahwa setiap manusia punya dignitas Ilahi yang diberikan oleh penciptaNya?

At the end,


Saya lemah, penuh sakit dan berdosa, saya bersyukur Tuhan melihat saya dengan belas kasihan. Lagipula juga tidak ada gunanya saya dilihat sebagai objek pemberi keuntungan, karena saya tidak bisa berikan keuntungan apapun pada DIA.



Deve L. Tampubolon
(yang bercita-cita bisa menuliskan sesuatu yang jadi berkat)

Rabu, 11 Agustus 2010

Meng-Complex-kan diri...

Merenungkan arti kata humility tidak lengkap sampai pada aplikasi dari kata ini.
Tidak mudah,, memang tidak mudah..

Dengan mengatakan aku sedang berjuang untuk menerapkan kata "humility", apakah aku justru sedang tidak bersikap "humility"??

Agghh, terlalu complex, atau meng-complex-kan diri..

Sepertinya yang kedua..

Sabtu, 12 Juni 2010

Hidupku adalah perjuangan...

Hidupku adalah perjuangan...


Perjuangan untuk TAAT sepenuhnya kepada ALLAH-ku...
Perjuangan untuk SETIA dalam panggilan DIA, panggilan yang lebih tinggi serta mulia dibanding apapun..
Perjuangan untuk PERCAYA kepada DIA yang mati bagi ku di kayu salib akan cukupkan segala sesuatu..
Perjuangan untuk berbagi KASIH kepada siapapun di muka bumi ini..
Perjuangan untuk MEMATIKAN DIRI...
Perjuangan untuk MEMAAFKAN..
Perjuangan untuk BE THE BEST.. for HIS Glory and Honour..



Memang hidupku adalah perjuangan...
Selamat berjuang diriku...
Selamat berjuang kawanku...


We may lose some battle, but HE,OUR GREAT LORD, have won the wars...




-Deve L. Tampubolon-
(yang bercita-cita bisa menuliskan sesuatu yang jadi berkat)

Minggu, 21 Februari 2010

tempurung kura-ku

Lebarnya 3x 4 meter. Letaknya di pinggiran daerah Jawa Barat. Disudut bangunan yang cukup megah, atau jika memang kurang tepat, bolehlah dikatakan besar saja. Dilapisi warna merah muda disetiap keseluruhan dindingnya, sperti mengisyaratkan gairah muda si penghuninya, juga urat - urat halus pada dinding yang mencoba memecahkan kokohnya dinding. Tempatnya biasa saja, tidak ada barang mewah yang ada didalamnya, hanya terdapat barang-barang kebutuhan sang penghuninya. Hanya ada kasur tanpa rangkanya, tergeletak begitu saja di lantai. Sebuah TV 14 inch yang mulai tua, sebuah radio yang juga sudah mulai tua, lemari baju yang pun sudah mulai lapuk dan beberapa perlengkapan alat makan. Yang berharga bagi si penghuni hanya sejumlah deretan rak yang berisi buku-buku. Itu saja. Biasa bukan.

Kesimpulannya, tidak ada yang menarik ada tempat itu. Tetapi, mengapa sang penghuni sepertinya enggan beranjak dari tempat yang orang-orang sebut sebagai “gubuk” -nya? Ada apa dengan tempat itu?

Selidik punya selidik, ternyata dibalik semua kesederhaan dan ke “biasa” an tempat itu, tempat itu punya makna mendalam bagi sang penghuni. Setiap paginya ketika si penghuni menyapa TUHAN-nya, dia melakukannya ditempat ini. Ditengah riuhnya aktivitas dan padatnya pekerjaan sang penghuni, tempat itu merupakan tempat bagi sang penghuni untuk menarik diri dan berdiam sementara. Tempat itu merupakan tempat dia “berlindung” dari yang dia sebut bahaya. Mungkin tidak banyak orang yang tahu, bahwa tempat itu tempat dia mencurahkan segala isi hati nya pada SANG PENCIPTA, tempat dia melakukan banyak hal tanpa merasa terintimidasi, tanpa merasa bersalah dan bisa menjadi diri sendiri.

Tempat itu pun tempat dia berbagi suka dengan orang-orang yang dia kasihi, tempat banyak orang untuk menceritakan segala pergumulan hidup mereka, tempat teman-temannya untuk mengerjakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan tempat itu pun menjadi tempat bagi teman-temanya untuk melakukan hal yang remeh saja, misal hanya sekedar numpang mandi, numpang tidur, tempat ‘bergosip’. Remeh bukan. Tempat itu “kamar pengungsian” demikian kata sahabat-sahabatnya. Bangga-nya hati sang penghuni, jika tempat yang begitu sederhana menjadi tempat yang memberikan banyak hal bagi orang-orang disekitarnya.

Saking nyamannya tempat ini, sang penghuni sampai enggan beranjak walaupun PENCIPTA-nya menghendakinya.

Sang penghuni menamakan tempat ini “Tempurung Kura-Kura” nya. Benarkah demikian?



================================================================



Letaknya dipusat kota. Berdiri cukup kokoh mengingat bangunan ini sudah cukup tua. Ada ditengah-tengah hiruk pikuk manusia modern. Walaupun bangunannya sudah tua, tidak berarti orang yang didalamnya juga demikian. Orang-orang yang ada didalamnya adalah pribadi-pribadi yang luar biasa, pribadi yang mengerjakan panggilan mulia dan agung dari SANG PENCIPTA. Pribadi-pribadi yang rela melepaskan cita, harapan, kenikmatan dunia demi PRIBADI yang mereka kasihi, yaitu TUHAN-nya. Pribadi-pribadi yang rela menanggung kesulitan, menanggung penderitaan, rela berjerih lelah, rela disalah mengerti, kadang ditolak, kesemuanya rela ditanggung demi membawa jiwa pada SANG KRISTUS. Mulia bukan tempat ini.

Di tempat ini selalu diadakan ucapan syukur pada Sang KHALIK atas apa yang telah dikerjakannya melalui komunitas ini, ditempat ini pun selalu dinaikkan doa kepada Sang Pemilik Pelayanan atas hal-hal yang akan dikerjakan kedepan. Sebagai wujud penyerahan diri dan kebegantungan penuh kepadaNYA. Tempat ini pun tempat mencurahkan bersama-sama pergumulan yang dihadapi, impian yang diharapkan atau bahkan tempat mencurahkan visi dengan sesama didalamnya. Tempat saling menjaga untuk tidak jatuh dalam dosa, jikalau pun sedang jatuh, orang-orang ini akan bersedia untuk menolong keluar. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tempat ini adalah tempat dimana orang saling mendoakan.

Juga, tempat ini pun menjadi tempat yang nyaman bagi orang-orang didalamnya, selalu ada keriangaan, keceriaan, selalu ada pengertian meskipun kadang sekali-sekali ada perselisihan. Tapi ada nuansa kehangatan keluarga dalam tempat ini. Indah dan nyaman bukan tempat ini.

Ingat sang penghuni tadi?

Begitu nyamannya si penghuni tadi, sampai enggan untuk beranjak dari dalamnya.

Lagi-lagi, sang penghuni tadi menamakan tempat ini “Tempurung Kura-Kura” nya? Benarkah demikian?



= = = = = = = = = = = = =



Mungkin kita bertanya kenapa “tempurung kura-kura”?. Walaupun kura-kura tidak punya gigi, tetapi kura-kura punya rahang yang kuat, dan alat pertahanannya hanyalah tempurungnya. Dua hal ini bagi kura-kura adalah vital mengingat kura-kura lemah. Melalui tempurung, kita bisa tahu banyak banyak hal tentang kura-kura. Tempurung bisa memberi petunjuk bagaimana kura-kura tersebut hidup. Kura-kura darat memiliki tempurung besar dan berbentuk kubah sehingga sulit bagi predator untuk menghancurkan tempurungnya. Adalagi jenis kura-kura akuatik yang tempurung nya datar dan beralur sehingga membantu si-kura kura untuk berenang dengan lincah. Intinya, bagi kura-kura, tempurungnya adalah stabilitas, perlindungan dan pertahanan hidupnya.

Ingat sang penghuni tadi?


Bagi sang penguni tadi, tempurungnya adalah kamar sempit 3x4 meter dan komunitas persekutuan yang dia miliki. Si penghuni salah besar, jika menyandarkan stabilitas & kenyamanan hidupnya pada sebuah kamar sempit, yang jika ditiup angin pun runtuh. Atau pun salah besar jika si penghuni tadi menyandarkan keamanan hidupnya pada tempurung yang sedikit lebih rohani, yaitu komunitas persekutuan yang dia miliki, benarkah ini dapat menjadi tempurungnya yang kokoh, menjaga dia dari godaan dosa atau ini hanya dijadikan tameng karena enggan melawan dunia. Walaupun tidak sepenuhnya salah jika kadang komunitas persekutuan bisa menolong untuk tidak jatuh dalam dosa, tapi jangan jadikan hal itu yang utama. Ada tempurung yang lebih utama dan dapat menjadi tempurung yang kekal bagi sang penghuni tadi dan kita, yaitu TUHAN.

Mungkin hal yang terlewatkan untuk direnungkan bagi sang penghuni tadi adalah, bukannya tempat itu yang menjadi stabilitas dan kenyamanan hidupnya tetapi relasinya dengan Tuhan setiap pagi, keintiman dengan Sang Penciptanya, penyerahan diri atas kehendakNYA, dan segudang pengalaman iman bersama DIA, yang menjadikan tempat itu berarti. Bukan karena tempatnya tapi karena SIAPA yang ada didalamnya dan ada bersamanya.

Bagaimana dengan tempurung yang sedikit rohani, kadang ini yang menjadi saru bagi kita, juga termasuk bagi si penghuni. Tempurung ‘rohani’ ini kadang membuat kita enggan untuk keluar dari nama yang disebut comfort zone. Indah, aman dan nyaman memang jika berada dalam komunitas persekutuan, tapi bukan karena sekedar atmosfir kehangatan keluarga tapi karena memang ada Tuhan didalamnya. Lagi-lagi, kadang kita suka salah mengartikan sebuah keamanan dan stabilitas, tempat lah yang selalu kita jadikan sasarannya, tapi tidaklah demikian. Jikalau pun persekutuan itu demikian besarnya, tapi tidak ada Tuhan dalam pribadi-pribadi orang yang ada didalamnya, maka semuanya itu kan menjadi sia-sia belaka.

Maka, jangan jadikan apapun itu baik tempat, harta-kah, pengetahuan-kah, atau yang sedikit berbau rohani seperti pelayanan, kita jadikan tempurung bagi kita yang lemah. Jadikanlah Tuhan menjadi tempurung kita, tempat kita berlindung dari kerasnya dunia, tempat kita berteduh dari segala badai dan tempat kita mencurahkan banyak hal. Dan kita akan aman didalamNya.


dvqt