Jumat, 25 Februari 2011

Pekerjaan Tidak Populer

Dalam senda gurau di sela-sela menuju ruang kuliah, celetukan yang sering saya dengar sewaktu kuliah adalah “sesial-sialnya anak FE menimal jadi menteri keuangan”. Sebegitu pongahnya kami dalam memandang jadi apa kami ke depan. Ditempa dalam kondisi demikian dan di’siram’terus menerus dengan perkataan yang menurut dosen kami ‘membangun’, kami jadi memiliki pandangan tersendiri terhadap jenis-jenis pekerjaan yang nantinya akan digeluti. Pandangan itu tumbuh subur dalam hati dan pola pikir kami karena pandangan tersebut mengotak-ngotakkan jenis pekerjaan berdasarkan posisi dan gengsinya. Dan saya hampir tenggelam dalam pola pikir seperti itu. Saya tidak setuju dengan pengotak-ngotakan itu, namun, saya tetap menyimpan harapan untuk bisa bekerja di bidang keuangan, minimal staf ahli menteri.

Walaupun saya ikut tertawa dalam guyon itu dan kadang terselip juga kepongahan itu, namun saya merasa bahwa guyon itu sangat berbahaya bagi perkembangan saya dan teman-teman memandang pekerjaan. Guyon itu membuat kami hanya merasa bahwa yang namanya pekerjaan hanyalah yang diakui oleh orang kebanyakan, alias pekerjaan populer.

Pekerjaan populer atau tidak populer hanya sebutan yang diberikan manusia untuk menggambarkan bahwa ada jenis pekerjaan yang lebih digandrungi oleh orang dan ada pekerjaan yang tidak gandrungi. Pelabelan tersebut bukan merujuk kepada nilai atau esensi dari pekerjaan atau bekerja. Tidak berarti bahwa orang-orang yang bekerja dalam pekerjaan tidak populer berarti dia manusia rendahan. Sepanjang pekerjaan tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran, maka manusia yang bekerja sudah sesuai dengan harkatnya, yaitu pekerja.

Saya menariknya dalam kondisi saya. Bagi orangtua, saya adalah kebanggaan mereka. Saya lulus dari sebuah universitas negeri ternama dan masuk dalam jurusan yang populer di universitas tersebut, padahal, ayah supir angkot, ibu seorang guru SD negeri. Harapan orang tua saya adalah saya bekerja di tempat yang nantinya bisa mereka ‘sombong’ kan ke keluarga kami lainnya.

Dan apa yang terjadi? Alih-alih menjadi ‘menteri keuangan’ atau minimal ‘staf ahli keuangan’, saya memilih pekerjaan yang tidak populer. Saya memilih menjadi staf sebuah LSM dan menjadi ‘staf ahli keuangan’ di sana. Pilihan ini menuai protes, cercaan, bahkan hinaan tidak hanya dari pihak orang tua tapi juga teman-teman saya di perkuliahan dulu. Lantas apakah saya menjadi orang yang rendahan ketika memilih pekerjan yang tidak populer? Saya dengan tegas berkata tidak karena saya memaknai pekerjaan dengan arti yang berbeda. Perbedaan terletak pada cara saya memilih suatu pekerjaan. Saya memilih pekerjaan berdasarkan visi, bukan pamor atau harapan orang. Dan bagi saya, setiap pekerjaan penting.

Ibarat klip pengganjal kertas di printer. Diantara bagian komponen yang lain, klip kecil ini sangat tidak terkenal dan jarang ada yang mengamati, tidak sepopuler film print atau tabung tinta. Namun, kehadiran klip kecil sangat menunjang kinerja keseluruhan mesin print ini. Jika klip kecil ini hilang, maka kertas yang ditarik oleh mesin tidak akan beraturan dan menyebabkan paper jam.

Bayangkan jika semua orang ingin menjadi ‘menteri keuangan’ atau ‘staf ahli menteri’ dan tidak ada tukang sapu, tukang angkut sampah, sopir, dll. maka kehidupan pasti tidak akan berjalan dengan seimbang.

Saya meyakini bahwa setiap pekerjaan punya kontribusi sesuai dengan apa yang sudah direncanakan oleh si Pemilik Pekerjaan. Seperti klip tadi, mungkin tampilannya memang kecil tapi punya peranan penting bagi kinerja alat tersebut. Begitu juga setiap kita, pekerjaan yang kita miliki punya peran penting secara keseluruhan. Mari lakukan bagian kita masing-masing dengan baik agar ‘printer’ ini berjalan dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar