Siapa bilang
kita yang 'dewasa' ini tidak bisa belajar tentang hidup dari makhluk kecil yang
belum pernah belajar alfabet, numerik, baca tulis, bahkan belum pernah melihat birunya
langit itu dan menakjubkannya alam ciptaan Tuhan.
Ya, dia memang belum bisa mengucapkan sepatah kata apapun tapi bisa mengajarkan apa artinya hidup pada siapa yang tahu tentang hidupnya, minimal kepada saya.
Namanya Alya. Jangan tanya dia siapa, karena saya pun tidak pernah sempat jumpa dengan dia. Saya tidak tahu nama pangjangnya. Saya tidak kenal dengan mama papanya. Saya hanya tahu aunty-nya yang sayang sama dia dan tentang kondisi dia waktu hadir ke dunia ini yang prematur 5,5 bulan dengan berat badan 600gr tetapi organ tubuhnya lengkap walau belum matang. Hanya itu.
Pelajaran pertama Alya dimulai ketika dia tidak menyerah dengan vonis dokter. Divonis hanya berusia tidak lebih dari 24 jam, Alya berjuang begitu rupa dan dia bertahan di dunia ini 3 hari. Dia tidak menyerah, dia tahu bahwa hidup itu berharga maka dari itu dia berjuang. No matter what people says she just fight for her own life. Somehow I knew it. I just knew it.
Pelajaran kedua, love surpasses many barrier. Kasihlah yang jadi pemenang dalam perlombaan ini. Ditengah-tengah dunia yang miskin dengan kepedulian dan kasih, Alya berhasil menarik banyak orang untuk berhenti sejenak dari kesibukan di dunia mereka masing-masing. Alya berhasil membuat orang berhenti sejenak untuk berdoa membawa nama dia kepada Sang Pencipta. Alya berhasil mengikat banyak orang untuk mengasihi dia walau tidak kenal, walau tidak pernah bertatap muka, mengasihi tanpa keraguan bahwa ini tipuan belaka dan mengasihi tanpa banyak pertanyaan. Dia pun mengajar banyak orang untuk belajar memberi tanpa pamrih. Alya did it. Yes, my baby girl you did it!
To my conclusion, Alya mengajarkan bagi kita yang masih hidup ini bahwa hidup itu berharga. Berharga untuk diperjuangkan. Terlalu berharga untuk disia-siakan.
Alya hanya menangis satu kali. Hanya satu kali yang terdengar cukup jelas. Bagi saya seakan dia mengeluarkan segenap tenaganya untuk mengapresiasi jutaan kasih sayang yang ditujukan kepada dia bertubi-tubi. Alya mengucap terima kasih untuk mama yang berjuang melahirkan dia, untuk dukungan yang diberikan kepada dia selama 3 hari ini, untuk aunty-aunty yang tersebar dimana-mana yang berusaha sebaik mungkin bagi dia. Alya menangis mengucapkan terima kasih kepada semua orang untuk doa dan kasih sayang.
No, my baby girl, thanks to you! What a good lesson you gave dear Alya.
As Psalmist say, you are fearfully and wonderfully made. God created your inmost being. He, himself, knit you together in your mother's womb. Gods' eyes saw your unformed body. All the days ordained for you written in Gods' book before one of them came to be. You are precious in God's sight as well in our sight. Farewell my baby, see you in heaven! Am sure my beloved Father in heaven welcoming you with an open arms and tears of proud. He proud of how brave you are Alya, our Alya.
Thanks to you Mom, for sharing your beloved daughter to us.
*Mourning*
by Deve L. Tampubolon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar