Ungkapan "belanda masih jauh" umumnya digunakan untuk menyatakan
bahwa sesuatu yang kita kejar atau
sesuatu yang sedang kita kerjakan tidak perlu dilakukan dengan terburu-buru
karena masih jauh 'belanda'nya.
Saya pakai istilah ini juga untuk menggambarkan betapa 'bersantai'nya saya dalam menceritakan kabar baik, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Semula saya beranggapan kalau keluarga saya tidak akan pernah meninggalkan Kristus, dan punya pemikiran kalau selamanya mereka tidak akan berpaling dari Kristus. Asalkan mereka tetap percaya pada Kristus, walaupun hidup mereka jauh dari mempertuhankan Dia, itu cukup bagi saya. Betapa naifnya saya ini.
Bagaikan disambar geledek rasanya ketika saya lihat dan dengar bahwa seorang kerabat, yang bisa dibilang dekat, ternyata bertolak dari Tuhan yang sejati. "Kenapa?" “Mengapa?” adalah pertanyaan pertama yang terlontar dengan campuran emosi didalamnya. Namun kemudian saya tersentak dengan pertanyaan "Kamu dimana?". Ya, saya ada dimana pada waktu dia mengalami banyak pertanyaan tentang Tuhan dan hidup ini. Kemana doa saya selama ini? Kemana saya?
Saya asik dengan banyak hal sehingga abai untuk waspada dan berjaga-jaga. Nilai 'Belanda masih jauh' saya anut dan punya dampak yang menggetirkan hati. Betapa benarnya apa yang teks suci katakan "Bersiaplah, berjagalah, baik atau tidak baik waktunya beritakanlah kabar keselamatan kepada seluruh penghuni di segala penjuru bumi ciptaanNya."
Kini mereka, dia dan dia, orang-orang yang saya kasihi berpaling dari Tuhan yang mengasihi mereka. Saya ambil bagian dalam keputusan buruk mereka dengan tidak berdoa dan abai. Harapan saya untuk mereka tidak pupus, kiranya Allah sumber segala kasih karunia akan memanggil mereka kembali dalam kumpulan kawanan domba kepunyaanNya.
Saya pakai istilah ini juga untuk menggambarkan betapa 'bersantai'nya saya dalam menceritakan kabar baik, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Semula saya beranggapan kalau keluarga saya tidak akan pernah meninggalkan Kristus, dan punya pemikiran kalau selamanya mereka tidak akan berpaling dari Kristus. Asalkan mereka tetap percaya pada Kristus, walaupun hidup mereka jauh dari mempertuhankan Dia, itu cukup bagi saya. Betapa naifnya saya ini.
Bagaikan disambar geledek rasanya ketika saya lihat dan dengar bahwa seorang kerabat, yang bisa dibilang dekat, ternyata bertolak dari Tuhan yang sejati. "Kenapa?" “Mengapa?” adalah pertanyaan pertama yang terlontar dengan campuran emosi didalamnya. Namun kemudian saya tersentak dengan pertanyaan "Kamu dimana?". Ya, saya ada dimana pada waktu dia mengalami banyak pertanyaan tentang Tuhan dan hidup ini. Kemana doa saya selama ini? Kemana saya?
Saya asik dengan banyak hal sehingga abai untuk waspada dan berjaga-jaga. Nilai 'Belanda masih jauh' saya anut dan punya dampak yang menggetirkan hati. Betapa benarnya apa yang teks suci katakan "Bersiaplah, berjagalah, baik atau tidak baik waktunya beritakanlah kabar keselamatan kepada seluruh penghuni di segala penjuru bumi ciptaanNya."
Kini mereka, dia dan dia, orang-orang yang saya kasihi berpaling dari Tuhan yang mengasihi mereka. Saya ambil bagian dalam keputusan buruk mereka dengan tidak berdoa dan abai. Harapan saya untuk mereka tidak pupus, kiranya Allah sumber segala kasih karunia akan memanggil mereka kembali dalam kumpulan kawanan domba kepunyaanNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar