Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN,
dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela (Mazmur 3:5)
Saya jenuh. Dalam 4,5 tahun ini, rutinitas saya sehari-hari berhadapan dengan kertas, angka, membuat laporan, dan memastikan kantor berjalan dalam koordinasi yang baik. Saya merasa butuh istirahat, butuh sabat, butuh sela.
Pengertian sela dalam kitab Mazmur sampai saat ini masih jadi perdebatan, entah sebagai tanda liturgi dalam musik atau instruksi dalam pembacaan teks yang seakan ingin mengatakan “berhenti dan dengarkan”. The Amplified Bible menerjemahkan sela sebagai berhenti sebentar dan mulai berpikir.
Saya terpikir untuk mengambil waktu istirahat dengan mengikuti pelatihan penulisan. Dalam benak, saya ingin mengikuti pelatihan ini hanya sampai hari kamis sore saja. Memang tujuannya hanya untuk sejenak berhenti, tidak ada niat untuk berpikir dan dengar. Tapi sore itu, ada satu kejadian membuat saya takut dan mengurungkan niat untuk pulang. Bapak mentor sangat tegas dan terkesan galak. Salah satu peserta hampir dinyatakan gugur karena terlambat masuk sesi pertama. Dia berkata, “Jika tidak masuk satu sesi lebih baik tidak usah ikut, suruh pulang saja jika masih jauh”. Saya sangat kaget dengan pernyataan beliau. Saya pikir betapa kerasnya persyaratan yang ditetapkan oleh Bang Sam. “Memang akan berjalan seperti apa sih pelatihan ini?” tanya saya dalam hati. Saya tetap dengan pendirian hanya ingin ‘berhenti’ tanpa maksud ‘berpikir dan mendengarkan’. Saya hanya ingin ‘berhenti’ saja alias ½ sela.
Dimulailah sesi pertama, kemudian perhatian saya terfokus pada tampilan foto-foto yang baru saya lihat dan kutipan-kutipan hebat yang baru saya dengar. Saya tertegun kagum, lalu dengan cepat beralih kepada merasa malu dan gelisah, kenapa saya bisa tidak tahu orang-orang hebat negeri ini. Saya tergugah dengan wawasan kebangsaan yang dimiliki oleh Bang Sam. Saya iri. Saya ingin tahu banyak seperti dia. Dan saya memutuskan untuk sepenuh hati mengikuti pelatihan ini. Pasti ada gunanya pikir saya. Saya memutuskan untuk ikut lengkap dan mengorbankan waktu masuk kerja dan acara penting yang harusnya saya hadiri. Padahal, hari kedua dalam pelatihan tersebut saya harus menghadiri rapat penting di kantor. Karena merasa sayang melewatkan sesinya, saya berjuang sedemikian rupa untuk bisa kembali ke pelatihan ini. Saya menemukan banyak hal baru.
Dan memang demikian, mulai dari bagaimana memperhatikan objek, menggali ide, dan yang paling saya ingat adalah menemukan ide yang sederhana tapi orisinil. Segala hal yang diberikan sangat menolong saya untuk menulis, yang notabene saya pernah bercita-cita jadi penulis. Bukan tidak mungkin ke depannya saya jadi penulis hebat seperti Bang Sam, bahkan lebih (he..he..). Dan pelatihan ini membantu saya menapak langkah pertama saya.
Jalan Tuhan memang beda dan unik. Ketika saya menginginkan bentuk istirahat yang ‘berhenti’, Tuhan malah memberikan kepada saya masa berhenti yang dipaksa berpikir dan dipaksa mendengarkan. Masa sela saya ada dalam pelatihan ini. Tuhan lebih tahu apa yang jadi kebutuhan saya untuk berhenti dalam masa tertekan oleh banyak hal: pekerjaan, rumah, dan diri.
Masa pelatihan adalah masa sela yang unik. Disini saya diminta diam, berhenti, berpikir dan mendengarkan. Seperti penggunaan sela dalam kitab mazmur, yang digunakan sebagai peralihan dari ayat satu ke ayat yang lain. Tuhan sedang menuliskan ayat dalam kisah hidup saya yang terencana dengan indah di dalam Dia. Sebelum melanjutkan ayat berikutnya, Dia menganugerahkan masa sela, masa pelatihan ini.
Terima kasih banyak Bang Sam, Kak Ellys, dan Kak Iyung. Terima kasih banyak Tuhan. ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar