Jumat, 25 Februari 2011

“Tak Kenal Maka Tak Sayang”

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan ini membuat saya kembali memikirkan ulang mengenai rasa cinta terhadap tanah air ini. Indonesia punya porsi besar dalam doa pribadi dan doa komunal saya. Terus bergiat mendorong anak binaan untuk mencintai negeri ini, menjadi salah satu indikator cinta Indonesia.

Tapi sepertinya ada proses yang terlewat oleh saya dan celakanya juga terlompat dalam pola pembinaan saya. Apakah itu? Kenal dan belajar Indonesia. Kenal dan tahu adalah dua hal yang berbeda. Tahu hanya sebatas melibatkan pikiran yang berdampak pada bertambahnya pengetahuan, tetapi kenal tidak hanya melibatkan unsur pikiran tapi juga emosi personal

Sejauh ini saya mendorong mereka untuk mencintai tanah air ini dengan cinta buta, cinta tanpa pengenalan. Cinta tanpa pengenalan adalah cinta yang dangkal. Wajar saja jika ujungnya saya menemukan ada anak bina yang dengan mudahnya berlaku jahat terhadap negerinya sendiri, misalnya: mencuri uang negara. Mungkin ini dikarenakan cinta yang sekedar konsep, pengetahuan dan pemikiran tanpa unsur emosi di dalamnya, cinta yang dangkal.

Saya kecewa. Tapi saya juga punya andil dalam kesalahan itu, saya melewatkan proses pentingnya: belajar dan kenal Indonesia.

Belajar dari kisah ironi Putri Indonesia, yang notabene adalah simbol atau representasi Indonesia, yang salah menyebutkan Indonesia sebagai ‘kota’. Ada lagi putri yang lain (dalam tahun berbeda) yang juga salah menyebutkan Wasior ada di pulau Sumatra. Betapa mirisnya kenyataan ini, bahwa pengenalan terhadap bangsa bukan lagi menjadi hal yang penting tapi sepele. Bahkan untuk pemilihan yang mengatas namakan Indonesia, pemenangnya tidak kenal Indonesia.

Berapa banyak anak muda kenal pahlawan-pahlawan negeri ini? Berapa banyak lagu bertemakan kebangsaaan masih familiar dinyanyikan anak muda? Berapa banyak anak muda mengerti sejarah dan tokoh pendiri bangsa ini? Tidak banyak. Dan saya termasuk dalam jajaran yang tidak banyak tersebut.

Lalu bagaimana memperbaikinya? Bagaimana belajar mencintai negeri ini dengan kenal dan belajar tentang Indonesia? Saya memulai dari diri saya sendiri. Saya mulai membaca tokoh-tokoh besar negeri ini dan belajar dari kisah hidup perjuangan mereka. Saya lebih bangga dengan kebudayaan-kebudayaan negeri ini yang beraneka ragam, yang mungkin bagi anak muda sekarang ini dianggap kuno. Saya belajar menghargai bahasa Indonesia, tidak sok kebule-bulean dengan mengutip kata Inggris hanya untuk terdengar lebih modern dan berpendidikan. Melibatkan unsur emosi dalam wawasan kebangsaan akan membuat saya lebih bergiat mencari tahu kekayaan sejarah dan budaya negeri ini. Dan saya bisa mulai menularkan pemahaman ini kepada anak binaan.

Untuk punya rasa sayang dan cinta yang dalam, butuh pengenalan baik dan utuh. Demikian juga mencintai negeri ini butuh kenal kisah dan sejarah bangsa ini. Betapa bodohnya saya tidak tahu kekayaan bangsa sendiri. Betapa miskinnya jika saya terus bersikap abai. Saya mau cari tahu, belajar, kenal dan akhirnya mencintai bangsa ini. Saya sayang karena kenal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar